Semua Berita

Berita Keimigrasian

JAKARTA – Direktorat Jenderal Imigrasi melaksanakan pendataan mengenai pemain-pemain Indonesia yang berkompetisi di luar dan pemain asing yang waktu ini berkompetisi di Indonesia. 

Sekjen PSSI, Azwan Karim mengemukakan, pihak Ditjen Imigrasi telah melayangkan surat pada PSSI. 

Tujuannya, instansi  yang bertugas mengurusi status perpindahan warga negara serta izin warga negara asing di Indonesia tersebut mau menggali kabar mengenai status kewarganegaraan pesepakbola lebih jauh. 

“Lantaran mereka (pihak Imigrasi, Red) tak mau kejadian seperti Wanderley (pemain asal Brasil, Wanderley Santos, red )terulang lagi di kemudian hari,” kata Azwan. 

“Mungkin saja awal pekan depan kami bakal segera melaksanakan pertemuan dengan mereka. Seharusnya pertemuan tersebut berlangsung pekan Selanjutnya, akan tak dapat berangsung dikarenakan bersamaan dengan agenda pertandingan ujicoba tim nasional,” kata Azwan. 

Pria asal Jakarta tersebut juga katakan kalau, Wanderley akhirya mesti dihukum larangan bertanding sepanjang dua bulan membela klubnya Al Nasr SC di kompetisi Uni Emirat Arab setelah ada laporan dari PSS ke AFC (Asian Football Confederation). 

“AFC menanyakan pada kita, apakah Wanderley pemain Indonesia? Jawaban kami bukan?, setelah tersebut  Wanderley dihukum,” terangnya.

tidak hanya tersebut, Azwan mengemukakan kalau mereka bakal membahas kasus mirip Wanderley bersama-sama pihak Keimigrasian yang belakangan juga muncul di sepak bola kita waktu ini. 

 04 Mei 2017

Berita Keimigrasian

VIVA.co.id – Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, Yurod Saleh, didampingi Kepala Divisi Keimigrasian DKI Jakarta, Yudanus Dekiwanto, mengukuhkan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora), Rabu, 25 Mei 2016.

Pengukuhan tim ini sekaligus peresmian Sekretariat Timpora Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan di Kalibata City Tower Sakura, Jakarta Selatan.

Kehadiran Timpora ini di tengah-tengah pemukiman masyarakat umum, dalam rangka mempermudah masyarakat untuk melaporkan atau mencari tahu tentang pengawasan WNA yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Seperti diketahui bahwa Indonesia telah memberlakukan bebas visa kepada 90 negara. Timpora dibentuk agar pemerintah bisa langsung mengontrol warga negara asing, serta menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Hal itu mendorong orang-orang yang ada di belahan dunia untuk datang ke Indonesia," ungkap Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Cucu Koswala, di kawasan Jakarta Selatan, Rabu 25 Mei 2016.
WNA yang tercatat di Kantor Imigrasi Jakarta saat ini sebanyak 11.000 orang. Apalagi, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), jumlah kunjungan WNA ke Indonesia, baik yang akan bekerja maupun liburan akan semakin meningkat.

 06 Oktober 2017

Berita Keimigrasian

Liputan6.com, Mataram - Petugas Imigrasi kelas 1 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menangkap warga negara asing (WNA) berinisial GM asal Italia, yang sedang berada di kafe di Senggigi, Lombok Barat. Turis 53 tahun itu ditangkap lantaran tidak bisa menujukkan identitasnya.

Sempat terjadi adu mulut antara petugas dan pria Italia tersebut saat dia diminta menunjukkan paspornya.

"Berdasarkan laporan yang kami terima, yang bersangkutan diduga melakukan pelanggaran. Tim kami kemudian mendatangi yang bersangkutan dan tidak dapat menunjukkan identitas resminya," ujar Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi kelas 1 Mataram Agung Wibowo di Mataram, NTB, Sabtu (20/8/2016).

Saat didatangi petugas imigrasi, GM meminta petugas menunjukkan kartu identitas keanggotaannya. Petugas Imigrasi kemudian menunjukkan kartu identitasnya, namun GM masih enggan menunjukkan paspornya.

GM, kata Agung, masih tidak percaya dengan petugas imigrasi karena berpakaian bebas. GM pun meminta petugas tersebut menggunakan seragam.

Akhirnya, sambung Agung, tim pengawasan imigrasi berseragam lengkap diterjunkan ke tempat usaha yang diduga dikelola pria tersebut.

"Saat tim kedua tiba yang mana saya sendiri yang memimpin, yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan paspornya. Dia kemudian kami gelandang menuju ke kantor Imigrasi untuk diperiksa," ujar Agung.

Sementara itu, GM mengaku telah berada di Lombok selama 26 tahun dan menjadi penerima tamu di cafe tersebut. GM juga mengklaim memiliki paspor tapi disimpan di sebuah bank dengan alasan keamanan.

"Saya tidak tahu aturan keimigrasian. Saya cuma bawa foto kopi paspor. Paspor saya simpan di bank, dan saya bukan pemilik kafe, tapi hanya bekerja sebagai penyapa tamu," kata GM.

Saat ini pria Italia tersebut ditahan di ruang detensi atau penahanan Imigrasi kelas 1 Mataram. Untuk sementara ia disangkakan melanggar Pasal 71 Undang-Undang Keimigrasian Nomor 6 Tahun 2011.

 06 Oktober 2017