Semua Berita

Berita Keimigrasian

Sabtu, 31 Desember 2016 | 15:19 WIB

TEMPO.CODepok - Kantor Imigrasi Kota Depok menolak 929 permohonan paspor oleh warga Depok. Dari jumlah tersebut, 829 ditolak melalui sistem dan 110 ditolak saat wawancara pemohon paspor.


"Yang dikhawatirkan mereka ke luar negeri ingin bergabung dengan gerakan radikal. Kami tolak karena keterangan dan tujuannya tidak jelas," kata Kepala Kantor Imigrasi Kota Depok Dudi Iskandar, Kamis, 29 Desember 2016.

Selama satu tahun, kata dia, pihaknya melakukan penolakan permohonan paspor berbagai jenis. Adapun pemohon yang ditolak sistem karena mereka terindikasi menduplikasi data. 

Contohnya, mereka ternyata sebelumnya pernah membuat paspor di tempat lain. Otomatis sistem Imigrasi menolak permohonan mereka. "Tidak semua orang bisa diterima untuk membuat paspor. Sebab, ada indikasi menduplikasi," ujarnya.

Imigrasi Depok juga menolak 110 orang karena tidak mempunyai tujuan yang jelas. Apalagi mereka mau pergi ke kawasan Timur Tengah. "Yang dikhawatirkan, mereka ingin menjadi teroris. Alasannya, mau bertemu saudara dan ada yang mau umrah," tuturnya. "Tapi, dari sisi kehidupan pribadi, mereka susah untuk hidup dan tidak meyakinkan."

Petugas Imigrasi berhak menolak permohonan warga jika datanya meragukan. Sebagai contoh, ada warga yang ingin umrah, tapi bekerja serabutan. "Enggak masuk akal, jadi ditolak, meski data sudah lengkap," ucapnya.

Orang yang ditolak akan ditangguhkan untuk membuat paspor. Masa penangguhan pembuatan paspor selama enam bulan. Namun, kalau yang bersangkutan dinyatakan rawan, petugas akan melakukan penolakan dan dimasukkan ke sistem. 

 06 Januari 2017

Berita Keimigrasian

Bogor - Sebanyak 4 orang warga negara (WN) China ditangkap pihak Imigrasi di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keempat WN China ini ditangkap saat bertani.

"Mereka melakukan usaha di bidang pertanian dan sekarang sudah ditangkap dan sedang diproses oleh Tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora)," kata Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F Sompie di aula lantai 12 Gedung Ditjen Imigrasi, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (10/11/2016).

Data yang didapat detikcom, 4 WN China ini ditangkap di Kampung Gunung Leutik, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10) pukul 13.00 WIB. Penangkapan dilakukan oleh Tim Pora DKI Jakarta dan Tim Pora Imigrasi Kelas II Kota Bogor.

Sebelumnya, Tim Pora DKI Jakarta mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya keberadaan WN China di lokasi tersebut. Keempat WN China ini sedang menanam cabai.

Tim Pora DKI Jakarta kemudian melakukan pengecekan ke lokasi. Benar saja, ada para WN China ini menanam cabai di atas lahan 4 hektare. Tim Pora DKI Jakarta kemudian melakukan koordinasi dengan Tim Pora Imigrasi Kelas II Kota Bogor. Para WN China ini pun kemudian ditangkap.

Keempat orang WN China ini merupakan laki-laki, masing-masing Xue Qingjiang (51), Yu Wai Man (37), Gu Zhaojun (52) dan Gao Huaqiang (53).

Xue Qingjiang dan Yu Wai Man saat diperiksa tidak memiliki paspor dan dokumen apapun. Sementara Gu Zhaojun dan Gao Huaqiang melakukan penyalahgunaan visa kunjungan. Kedua WN China yang tidak membawa paspor beralasan dokumen mereka dibawa oleh sponsor.

Keempat orang WN China tersebut dibawa ke kantor Imigrasi Kelas II Kota Bogor untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ronny mengatakan, pihaknya akan menelusuri kasus ini lebih lanjut.

"Kita tahu ada kebijakan bebas visa kunjungan yang berlaku 1 bulan bagi WNA dari 149 negara mendapat visa kunjungan. Ini menjadi celah bagi WNA yang melakukan kegiatan lain," katanya. Dia mengimbau agar masyarakat aktif memberikan informasi jika ada aktivitas WNA yang mencurigakan.

"Yang dilakukan imigrasi mengejar, nanti imigrasi melakukan kerja sama dengan aparat lain apakah butuh tim tambahan," ucapnya.
(hri/fdn)

 14 November 2016

Berita Keimigrasian

Sebelum dilakukannya Operasi Gabungan , dilakukan rapat persiapan yang dipimpin oleh Kepala Sub Seksi Penindakan Keimigrasian selaku Plh. Kepala Seksi Wasdakim pada tanggal 18 Agustus 2016 di ruang Sekretariat Tim Pora dengan memberikan informasi informasi kepada anggota TIM Pora Kabupaten Gianyar mengenai wilayah yang akan dijadikan target pengawasan dan mengumpulkan informasi - informasi dari anggota TIM Pora mengenai keberadaan dan kegiatan orang asing di wilayah Kabupaten Gianyar.

 Sebagai tindak lanjut dari Surat Keputusan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar Nomor : W20.EB-GR.03.02- 0285 tahun 2016 tentang Tim Pengawasan Orang Asing Kabupaten Gianyar yang selanjutnya disebut Tim Pora Kabupaten Gianyar, bersama - sama dengan beberapa instansi terkait (operasi gabungan) sebagaimana disebutkan dalam surat perintah Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar dengan nomor : W20.EB-GR.02.01-4. 0394 tanggal 09 Agustus 2016 melakukan pemantauan dan pengawasan terpadu di wilayah Kabupaten Gianyar.

Setelah dilakukannya pemeriksaan di PT. Outpost Creative Space, pada pukul 12.25 Wita Tim Gabungan menuju perusahaan HUBUD yang beralamat di Jl. Monkey Forest 88x Ubud, Gianyar. Kemudian Tim Gabungan bertemu dengan salah satu karyawan bagian HRD dan menyampaikan kepada Tim bahwa benar di perusahaan tersebut ada kegiatan warga negara asing namun Warga Negara Asing yang berkegiatan di perusahaan tersebut hanya sebagai pengunjung, karena tempat tersebut memfasilitasi dan menyewakan untuk kegiatan - kegiatan workshop dan penyewaan Internet. Setelah dilakukannya pemeriksaan perusahaan HUBUD tidak mempekerjakan Warga Negara Asing dan tidak ditemukan adanya pelanggaran Keimigrasian.

Pada pukul 13.30 Tim Gabungan melanjutkan pemeriksaan ke Sekolah Sjaki - Tari - US yang bernaung dibawah Yayasan Bali Hati yang beralamat di Jl. Monkey Forestm, Ubud, Gianyar. Setelah sampai di sekolah tersebut Tim Gabungan bertemu langsung dengan Kepala Sekolah yang bernama Luh Mertasari. Tim kemudian mewawancarai Ibu Luh Mertasari dan dari hasil wawancara tersebut dijelaskan bahwa Sekolah Sjaki - Tari - US mempekerjakan tenaga kerja asing berjumlah 4 orang dengan data sebagai berikut :

  • Nama               : MARYE MORSELT
    Kebangsaan    : Belanda
  • Nama               : NEVENA TAMIS
    Kebangsaan    : Belanda
  • Nama               : ANOEK VAN VELAHWIZEN
    Kebangsaan    : Belanda
  • Nama              : NAARA TOMASOWA
    Kebangsaan   : Belanda

Dari hasil pemeriksaan dan bukti - bukti yang ditemukan serta penjelasan dari Ibu Luh Mertasari selaku Kepala Sekolah bahwa semua orang asing tersebut mengaku sebagai tenaga suka rela yang membantu kegiatan di sekolah tersebut namun diduga adanya pelanggaran Keimigrasian karena semua orang asing tersebut menggunakan Visa Sosial Budaya tanpa disponsori oleh Sekolah Sjaki - Tari - Us dan Yayasan Bali Hati. Kemudian Tim membawa Paspor dari orang asing tersebut, namun Tim hanya mendapatkan 2 buah Paspor dan 2 buah Paspor yang lain akan diserahkan tanggal 19 Agustus 2016 ke Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar serta Tim akan memanggil semua orang asing tersebut untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 18 Agustus 2017

Berita Keimigrasian

TREN.CO.ID, JAKARTA – Aparat Arab Saudi menahan 229 orang di Mekkah pada Rabu (7/9/2016) lalu terkait penyalahgunaan visa. Mereka menggunakan visa umroh untuk ibadah haji. Di antara mereka, 120 orang telah menjalani proses pengambilan sidik jari.

“Setelah itu, mereka bisa dideportasi,” kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal seperti dikutip dari BBC, Minggu (11/9).

Lalu menyatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pemerintah Arab Saudi, 120 WNI tersebut memakai visa umrah untuk mengunjungi Arab Saudi.

Saat masa berkunjung habis, mereka tidak langsung kembali ke Indonesia, tapi menetap hingga beberapa bulan sampai tiba musim haji.

“Kita mendeteksi ada ribuan jamaah haji yang masuk melalui jalur umrah. Pada umumnya masuk enam bulan sebelum musim haji untuk mengikuti umrah lalu menetap di sana sambil bekerja lalu mengikuti ibadah haji,” ujar Lalu.

Sementara 120 WNI memakai visa umrah untuk berhaji, 109 WNI lainnya memakai visa kerja yang habis masa berlakunya.

“Untuk bisa berhaji, mereka harus mendapatkan surat pelepasan dari mantan majikannya. Tapi mereka tidak memiliki dokumen tersebut,” ujar Lalu.

Ratusan WNI itu ditahan aparat Arab Saudi dari dua tempat penampungan berbeda. Mereka terdiri dari 155 perempuan, 59 laki-laki, dan 15 anak-anak.

Saat ditangkap, mereka tidak memiliki tasreh (izin beribadah haji) dan diduga membayar sejumlah uang kepada sindikat yang mengatur perjalanan ibadah haji di Saudi.

“Pada dasarnya mereka adalah pelanggar hukum menurut hukum Arab Saudi. Namun demikian kami akan tetap memberikan bantuan yang sejalan dengan hukum di Saudi. Kami akan memastikan bahwa mereka ditahan di tempat yang layak dan memastikan hak-hak hukum mereka dihormati,” ujar Dicky Yunus, petugas pelaksana Konsulat Jenderal RI di Jeddah.

Menurut hukum Saudi, 229 WNI tersebut dapat diancam hukuman minimal enam bulan penjara dan pencekalan memasuki Saudi selama 10 tahun.

Saat ini 229 WNI tersebut ditampung di rumah detensi imigrasi Tarhil Syumaisi yang terletak di antara Jeddah dan Mekah.

Lalu menambahkan, modus berhaji melalui jalur ilegal kini semakin beragam. Dia mencontohkan 177 calon haji WNI yang sempat ditahan di Filipina karena memakai paspor Filipina.

 18 Agustus 2017

Berita Keimigrasian

TREN.CO.ID, JAKARTA – Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menangkap ahli patologi forensik dari Universitas Queensland, Beng Beng Ong, Selasa (6/9) pagi. Beng Ong yang sempat dihadirkan sebagai ahli pada persidangan atas Jessica Kumala Wongso, itu ditangkap sata hendak meninggalkan Indonesia menuju Singapura.

Dirjen Imigrasi, Ronny F Sompie mengatakan, penangkapan Beng Ong bermula dari pengaduan jaksa yang menangani perkara Jessica. Tim jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat mencurigai Beng Ong melanggar aturan keimigrasian terkait visa kunjungannya ke Indonesia.

"Berkaitan dengan apa yang dikeluhkan jaksa, kami melakukan pengawasan keimigrasian dan kami tugaskan kepala imigrasi Jakpus untuk kasus ini,” kata Ronny.

Mantan juru bicara Mabes Polri itu menambahkan, saat ini Beng Ong masih dalam pemeriksaan imigrasi. Karenanya, Beng Ong sudah diboyong ke kantor imigrasi Jakpus.

‎”Tadi pagi yang bersangkutan mau ke Singapura dan kami periksa visanya. Namun ini sudah selesai atau belum saya harus cek dulu ke Imigrasi ke Jakpus,” singkat dia.

Sebelumnya, jaksa mempersoalkan status Beng Ong yang dihadirkan oleh tim penasihat hukum Jessica pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (5/9). Sebab, mestinya Beng Ong mengantongi visa khusus dan bukan sekadar visa kunjungan biasa.

 18 Agustus 2017

Berita Keimigrasian

JAKARTA – Direktorat Jenderal Imigrasi melaksanakan pendataan mengenai pemain-pemain Indonesia yang berkompetisi di luar dan pemain asing yang waktu ini berkompetisi di Indonesia. 

Sekjen PSSI, Azwan Karim mengemukakan, pihak Ditjen Imigrasi telah melayangkan surat pada PSSI. 

Tujuannya, instansi  yang bertugas mengurusi status perpindahan warga negara serta izin warga negara asing di Indonesia tersebut mau menggali kabar mengenai status kewarganegaraan pesepakbola lebih jauh. 

“Lantaran mereka (pihak Imigrasi, Red) tak mau kejadian seperti Wanderley (pemain asal Brasil, Wanderley Santos, red )terulang lagi di kemudian hari,” kata Azwan. 

“Mungkin saja awal pekan depan kami bakal segera melaksanakan pertemuan dengan mereka. Seharusnya pertemuan tersebut berlangsung pekan Selanjutnya, akan tak dapat berangsung dikarenakan bersamaan dengan agenda pertandingan ujicoba tim nasional,” kata Azwan. 

Pria asal Jakarta tersebut juga katakan kalau, Wanderley akhirya mesti dihukum larangan bertanding sepanjang dua bulan membela klubnya Al Nasr SC di kompetisi Uni Emirat Arab setelah ada laporan dari PSS ke AFC (Asian Football Confederation). 

“AFC menanyakan pada kita, apakah Wanderley pemain Indonesia? Jawaban kami bukan?, setelah tersebut  Wanderley dihukum,” terangnya.

tidak hanya tersebut, Azwan mengemukakan kalau mereka bakal membahas kasus mirip Wanderley bersama-sama pihak Keimigrasian yang belakangan juga muncul di sepak bola kita waktu ini. 

 04 Mei 2017

Berita Keimigrasian

VIVA.co.id – Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, Yurod Saleh, didampingi Kepala Divisi Keimigrasian DKI Jakarta, Yudanus Dekiwanto, mengukuhkan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora), Rabu, 25 Mei 2016.

Pengukuhan tim ini sekaligus peresmian Sekretariat Timpora Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan di Kalibata City Tower Sakura, Jakarta Selatan.

Kehadiran Timpora ini di tengah-tengah pemukiman masyarakat umum, dalam rangka mempermudah masyarakat untuk melaporkan atau mencari tahu tentang pengawasan WNA yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Seperti diketahui bahwa Indonesia telah memberlakukan bebas visa kepada 90 negara. Timpora dibentuk agar pemerintah bisa langsung mengontrol warga negara asing, serta menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Hal itu mendorong orang-orang yang ada di belahan dunia untuk datang ke Indonesia," ungkap Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Cucu Koswala, di kawasan Jakarta Selatan, Rabu 25 Mei 2016.
WNA yang tercatat di Kantor Imigrasi Jakarta saat ini sebanyak 11.000 orang. Apalagi, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), jumlah kunjungan WNA ke Indonesia, baik yang akan bekerja maupun liburan akan semakin meningkat.

 06 Oktober 2017

Berita Keimigrasian

Liputan6.com, Mataram - Petugas Imigrasi kelas 1 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menangkap warga negara asing (WNA) berinisial GM asal Italia, yang sedang berada di kafe di Senggigi, Lombok Barat. Turis 53 tahun itu ditangkap lantaran tidak bisa menujukkan identitasnya.

Sempat terjadi adu mulut antara petugas dan pria Italia tersebut saat dia diminta menunjukkan paspornya.

"Berdasarkan laporan yang kami terima, yang bersangkutan diduga melakukan pelanggaran. Tim kami kemudian mendatangi yang bersangkutan dan tidak dapat menunjukkan identitas resminya," ujar Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi kelas 1 Mataram Agung Wibowo di Mataram, NTB, Sabtu (20/8/2016).

Saat didatangi petugas imigrasi, GM meminta petugas menunjukkan kartu identitas keanggotaannya. Petugas Imigrasi kemudian menunjukkan kartu identitasnya, namun GM masih enggan menunjukkan paspornya.

GM, kata Agung, masih tidak percaya dengan petugas imigrasi karena berpakaian bebas. GM pun meminta petugas tersebut menggunakan seragam.

Akhirnya, sambung Agung, tim pengawasan imigrasi berseragam lengkap diterjunkan ke tempat usaha yang diduga dikelola pria tersebut.

"Saat tim kedua tiba yang mana saya sendiri yang memimpin, yang bersangkutan tidak bisa menunjukkan paspornya. Dia kemudian kami gelandang menuju ke kantor Imigrasi untuk diperiksa," ujar Agung.

Sementara itu, GM mengaku telah berada di Lombok selama 26 tahun dan menjadi penerima tamu di cafe tersebut. GM juga mengklaim memiliki paspor tapi disimpan di sebuah bank dengan alasan keamanan.

"Saya tidak tahu aturan keimigrasian. Saya cuma bawa foto kopi paspor. Paspor saya simpan di bank, dan saya bukan pemilik kafe, tapi hanya bekerja sebagai penyapa tamu," kata GM.

Saat ini pria Italia tersebut ditahan di ruang detensi atau penahanan Imigrasi kelas 1 Mataram. Untuk sementara ia disangkakan melanggar Pasal 71 Undang-Undang Keimigrasian Nomor 6 Tahun 2011.

 06 Oktober 2017