Capaian Kinerja Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja Tahun 2017

Singaraja, balipuspanews.com — Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, menggelar konferensi pers terkait capaian kinerja tahun 2017 pada Selasa (19/12) pagi.

Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja sesuai dengan SK Menteri Nomor M.05.PR.07.04 tertanggal 25 September 2002 mewilayahi tiga Kabupaten, yakni Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Karangasem.

“Pada konferensi pers ini, kita laksanakan untuk menyampaikan capaian kinerja kami selama tahun 2017,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Ngurah Mas Wijaya Kusuma.

Capaian kinerja, sambung Ngurah Mas mencakup pelayanan teknis Keimigrasian baik itu penerbitan paspor RI bagi WNI, penerbitan dan perpanjangan izin keimigrasian bagi orang asing baik izin tinggal kunjungan, izin tinggal terbatas, dan izin tetap di wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja.

 

Dari data penerbitan paspor RI pada tahun 2017, terjadi penurunan cukup tipis dibandingkan penerbitan pada tahun sebelumnya, semula 3976 paspor di tahun 2016 menjadi 3967 paspor di tahun 2017.

Namun demikian, dilihat dari perspektif gender, terjadi peningkatan cukup signifikan pada penerbitan paspor Warga Negara Indonesia (WNI) perempuan, dimana dari data semula 1596 paspor RI di tahun 2016 menjadi 1644 pada tahun 2017.

“Jumlah keseluruhan penerbitan 3967 paspor (48 Halaman), sedangkan paspor (24 Halaman) nihil. Kalau jumlah detail paspor RI di pada tahun ini, laki-laki 2323, dan perempuan 1644,” ungkapnya.

Masih kata Ngurah Mas, pihaknya juga melakukan penundaan penerbitan paspor terhadap belasan pengajuan paspor diduga merupakan TKI Non Prosedural.

“Penundaan terhadap 19 pengajuan paspor disamping mereka tidak memenuhi persyaratan. Ya, setidaknya mereka harus mengantongi izin dari Disnaker setempat. Selain itu, penundaan bertujuan untuk menghindari agar WNI tidak menjadi korban perdagangan manusia di luar negeri,” kata dia.

Sedangkan untuk jumlah penerbitan ijin tinggal tetap (ITK), ijin tinggal terbatas (ITAS), ijin tinggal tetap (ITAP) keimigrasian mencatat 704 warga negara asing (WNA) berasal dari lima negara menerima fasilitas penerbitan paspor tersebut.

“Terbanyak itu WNA berkebangsaan Belanda dengan jumlah 209 orang, disusul China 205 orang, Jerman 125 orang, Australia 87 orang, dan Perancis 78 orang,” jelasnya.

Kemudian, terkait capaian penegakan hukum keimigrasian berupa tindakan administratif dan projostitia, pihaknya telah menindak 111 pelanggaran.

Dari 111 pelanggaran, pihak Imigrasi Singaraja terpaksa mendeportasi 19 warga asing lantaran melanggar administrasi keimigrasian, dan keberadaannya memang tidak diinginkan di Indonesia.

Disamping itu pula, terdapat 3 orang masuk dalam daftar pendetesian, dan 89 orang masuk daftar overstay.

Selain itu, keimigrasian saat ini memiliki sebuah inovasi unggulan berupa permohonan antrian paspor secara online serta penerapan aplikasi pelapiran orang asing di setiap perusahaan, penginapan serta hotel dan villa di wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja.

Ngurah Mas menyebut sistem itu akan memberikan kepastian waktu pelayanan bagi pemohon. Sehingga pemohon tidak perlu antri lagi di Kantor Imigrasi, karena begitu datang sudah langsung mendapat pelayanan.

“Cukup men-download aplikasi Antrian Paspor melalui play store, pendaftaran permohonan paspor sudah bisa dilakukan dari rumah melalui ponsel berbasis android,” beber pria asal Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Buleleng ini.

Dalam aplikasi itu, pemohon tinggal mengikuti perintah yang ada, termasuk memasukkan persyaratan dalam permohonan itu. Keuntungan pelayanan dengan aplikasi itu, pemohon bisa menentukan waktu pelayanan. Sehingga pemohon tinggal datang ke kantor Imingrasi sesuai waktu yang ditentukan, sudah langsung mendapat pelayanan.

Menurut Ngurah, karena pelayanan dengan sistem antri online ini baru pertama kali diberlakukan, pihaknya tetap memberikan pelayanan terhadap pemohon yang datang langsung ke Kantor Imigrasi.

“Nanti kami siapkan dua loket, yang satu pelayanan dengan sistem online, dan satu lagi pelayanan secara manual. Kalau yang manual, datang dan harus antri dulu,” tutupnya.